Rabu, 10 Oktober 2012

PIDATO KH HASYIM ASY'ARI (24 Mei 1948)

Nama KH Hasyim Asy'ari sangat dikenal masyarakat islam indonesia terutama kalangan Nahdatul 'Ulama'. Beliau adalah pendiri NU. Beliau pada tahun 1948 (3 tahun setelah indonesia menyatakan merdeka) sudah mewanti-wanti umat islam untuk berhati-hati dalam menjalankan roda kehidupan negara yang disebut Indonesia. Beliau mewasiatkan kaum pemuda islam terutama kader-kader NU untuk memegang teguh syariat islam. Berikut pidato beliau :

Mengatasi Problema Kehidupan
Dengan Syari’ah Islam
Amma ba’du,
Saudara-saudara para peserta muktamar!
Salah satu hal yang seharusnya kita perhatikan dalam kaitanya dengan penanganan problematika kehidupan dan pencapaian prestasi adalah melihat dari waktu ke waktu sampai pada batas mana perjuangan dan usaha yang kita lakuakan. Kita akan merasa senang apabila usaha kita mendapatkan keberhasilan dan kemenangan, dan sebaliknya kita bisa mengambil pelajaran apabila usaha dan perjuangan kita gagal dan tidak berhasil. Dalam muktamar ini, marilah kita bandingkan dengan muktamar sebelumnya, dan marilah kita lihat dimana posisi kita sekarang ini, apakah termasuk orang yang telah disebut oleh nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa Sallam yang artinya : “ Barang siapa yang hari ini lebih baik dari pada hari kemarin, maka dia adalah orang yang beruntung, barang siapa hari ini sama dengan hari kemarin, maka dialah orang yang tertipu, dan barang siapa yang hari ini lebih jelek dengan hari kemarin, maka dia adalah orang yang binasa”.
Pertama : Kita melihat pokok permasalahannya ini dari sudut spiritual religius. Maka dari sinilah kita akan tahu bahwa kehidupan spiritual religius kemarin lebih baik dari pada kehidupan sekarang. Dahulu, adanya perhatian terhadap urusan-urusan keagamaan adalah sangat besar. Namun secara perlahan perhatian tersebut semakin melemah, dan pada akhirnya akan hilang sedikit demi sedikit.
Keberadaan pesantren sebagai tempat pendidikan Islam pun semakin memprihatinkan, karena yang berminat untuk belajar disana semakin sedikit, dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya. Dan tidak sedikit sekolah-sekolah Islam yang telah menutup pintunya rapat-rapat, karena pendaftaran siswa semakin berkurang dan pegawai-pegawai pengelolanya semakin jarang. Rumah-rumah Allah meratapi nasibnya yang malang lagi sunyi, sebab orang yang shalat dan orang yang beribadah sudah mulai meninggalkannya.
Kedua : Kita melihatnya dari sudut sosial masyarakat. Kita dapati kehidupan spiritual religius dalam masyarakat menjadi lemah, semakin rendah, dan sedikit pengaruhnya. Karena di dalam masyarakat hampir kita tidak menjumpai orang yang memperhatikan urusan syari’at agama, apakah itu masalah halal atau haram. Kemungkaran (yang melanggar syari’at) telah dilakukan secara terang-terangan. Minuman khamer (miras)-yang merupakan pokok dari semua kejahatan telah menyebar dan memasyarakat, bahkan mereka menganggap- nya sebagai suatu kebanggaan tersendiri. Setiap hari mata kita menyaksikan berbaurnya lelaki dan perempuan (termasuk di sekolah-sekolah Islam) dengan pembauran yang meng-gelisahkan, dan telinga kita mendengarkan fenomena pergaulan bebas antara lelaki dan perempuan “apakah ini halal”, lantas didiamkannya, “ataukah ini haram” yang menye-babkan kemurkaan Allah dan kehinaan di dunia.
Selain itu masih ada yang lebih celaka dan lebih pahit daripada yang tersebut di atas, yaitu tersebarnya ajaran-ajaran kufur dan pemikiran sesat di kalangan anak-anak muda muslim baik di desa maupun di kota.
Saat ini telah tersebar luas ilmu kebendaan yang mengajarkan bahwa hidup di dunia ini hanyalah untuk menge-jar keuntungan materi belaka. Tidak ada kehidupan rohani, tidak ada kepercayaan kepada alam ghaib, tidak ada keyakinan terhadap akhirat. Bahkan tidak pernah menengok kepada suatu bahaya besar yang dapat mengancam peribadi generasi muda kita yang apabila dibiarkan akan merusak pilar agama kita, yaitu Islam. La haula wala quwwata illa billahil ‘aliyyil ‘adzim.
Ukhuwah Islamiyah di zaman sekarang merupakan suatu puing-puing reruntuhan yang hanya bisa diucapkan dan men-jadi slogan belaka yang bisa dikumandangkan oleh para ahli pidato. Mereka meneriakkan ukhuwah Islamiyah hanya pada angan-angan mereka belaka, padahal ukhuwah tersebut telah hilang dari kehidupan masyarakat. Karena masih ada di antara kita yang menyaksikan orang yang sedang kesusahan dengan mata kepalanya sendiri, menyaksikan saudara-saudaranya yang kelaparan bahkan hampir mati karena sangat lapar, namun hatinya tidak tergerak untuk mengulurkan pertolongan dan bantuan kebaikan, hanya berdiam diri, membeku bagai batu dan besi, bahkan diamnya membenarkan bahwa pintu rizki zaman sekarang ini semakin sempit.
Kehidupan perekonomian semakin lesu dan ketinggalan. Pendapat semacam ini dilontarkan oleh seseorang yang ingin bebas dari aturan syari’at dan sosial, sedangkan dia sendiri tahu bahwa Allah yang Maha Pemberi rizki menurunkan rizki-Nya menurut satu ukuran tertentu. Karunia Allah tidak akan hilang dari orang yang enggan melakukan perintah-Nya, namun yang hilang dari mereka adalah akhlak dan budi pekertinya.    
Ketiga: Kita melihatnya dari sudut politik. Kita akan mendapati bagian (peran) orang-orang muslim sangatlah sedikit. Sebenarnya jiwa religius di dunia politik Indonesia telah melemah, bahkan akhir-akhir ini hampir mati. Tetapi disana ada bahaya besar, yaitu ada sebagian orang yang menggunakan lebel Islam sebagai tunggangan yang mereka kendarai untuk mencapai tujuannya, baik untuk kemaslahatan politik maupun untuk kepentingan pribadi berkedok politik.
Termasuk dari kerusakan zaman adalah bahwa ada sekelompok orang yang mengaku berasal dari komunitas muslim, bahkan mengaku sebagai pembesar-pembesar Islam, namun mereka tidak mau menundukkan kepala terhadap perintah-perintah Allah, mereka tidak mau menjauhi larangan-larangan-Nya (artinya mereka meninggalkan syari’at Islam), bahkan dahi-dahi mereka tidak pernah menempel di lantai mesjid. Dari sinilah adanya indikasi bahwa jiwa keagamaan di negara kita menjadi sangat lemah bahkan hampir mati.
Saudara-saudaraku para Ulama yang cendekiawan!
Setelah saya paparkan penjelasan ini, saya ingatkan kepada kalian bahwa hidup dan matinya Islam di Indonesia tergantung pada saudara-saudara. Sudah selayaknya amal kebajikan dan kegigihan perjuangan kalian lebih banyak dari pada yang lain. Sesungguhnya saudara-saudara adalah pem-bawa amanat Allah untuk hamba-hamba-Nya, dan saudara-saudara adalah merupakan benteng bagi syari’at dan jiwa penggerak Islam.
Hari ini, pada saat yang panas ini, ummat Islam Indonesia menyaksikan apa yang kalian perjuangkan demi kemaslahatan keagamaan dan keadaan sosial bagi mereka. Sebagaiman hal itu telah diperintahkan oleh syari’at Islam atas diri kalian. Dengan demikian diharapkan kalian bisa memberi penawar atas rasa haus mereka terhadap syari’at Islam dan kalian mampu mengayomi kepentingan agama mereka, sehingga kepercayaan mereka tetap teguh pada diri kalian. Namun apabila tidak ada seorang pun dari kalian mampu menjadi pemimpin agama yang baik bagi mereka, dan pengayoman iman yang melindungi mereka serta penjaga syari’at yang mampu membentengi mereka, maka kepercaya-an mereka terhadap amanat Allah yang semestinya ada pada diri kalian pastilah akan hilang di hati mereka sebagaimana hilangnya kepercayaan tersebut terhadap pemimpin-pemimpin selain kalian. Mereka sekarang sedang meratapi suatu kondisi yang selalu dihantui oleh kematian disetiap tempat. Tidak tersisa suatu angan-angan (dari harapan mereka) kecuali kepada kalian dan tidak pula harapan kecuali dari kalian (“maka apakah kalian kerjakan?”). Saya mengatakan ini bukan untuk berlebih-lebihan atau omong kosong. Akan tetapi itulah yang sebenarnya, yang hal tersebut dapat dipahami oleh setiap orang yang berfikir dan peduli terhadap urusan Islam di Indonesia.
Demikianlah bahwasanya kehidupan negeri kita masih dalam ancaman bahaya dari pihak musuh, baik dari dalam negeri maupun dari luar negeri dengan segala kekuatan maupun persiapan yang matang, dan dengan segala makar, kecurangan dan tipu daya. Mereka juga memanfaatkan para pimpinan militer dan para tentara-tentaranya serta intel-intel yang berada di barisan mereka maupun yang menyelundup di barisan kita. Hal ini telah disebutkan Allah dalam firman-Nya yang artinya:
“Orang-orang kafir itu membuat siasat dan Allah membalas siasat mereka itu. Dan Allah adalah sebai-baik Dzat yang berstrategi”. (Qs.Ali Imran, 54)
Maka hanya kepada saudara-saudaralah tumpuan cita-cita ummat Islam Indonesia. Saudara-saudara harapan tunggal mereka. Wahai pembawa amanat Allah, saya titipkan kepada kalian. Di pundak kalianlah aku harapkan pertolongan dan bantuan. Sebab banyak sekali orang-orang yang tidak peduli terhadap permasalahan ummat. Sebagaimana dahulu ketidak pedulian kaum Thalut dalam menghadapi kaum Jalut. Saat mereka berhenti saat menyeberangi sungai, sambil berkata:
“Tidak ada kesanggupan kami pada hari ini untuk melawan Jalut dan tentaranya”. (Qs. Al Baqarah, 249)
Bangkitlah wahai saudara-saudaraku para ulama, dan kuatkanlah barisanmu, kumpulkan semua kekuatanmu dan mantapkanlah keyakinanmu bahwa: “Berapa banyak dari golongan yang sedikit dapat mengalahkan golongan yang banyak dengan izin Allah. Dan Allah bersama orang-orang yang sabar”. (Q.s. Al Baqarah, 249)
Sampai disini. Saya mohon ampunan kepada Allah untuk diriku dan kalian  '    

Lembaga Penegakan Aqidah Islam
(LPAI)

Teks Pidato ini diambil dari situs Pejuang Islam

Tidak ada komentar:

Posting Komentar